saya menginginkan ridwan kamil walikota Bandung menjadi presiden dan jokowidodo gubernur DKI Jakarta menjadi wakil presiden ? saya sangat setuju ?
insya Allah Indonesia maju
Minggu, 05 Januari 2014
Jumat, 15 November 2013
makalah kemiskinan di indonesia
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya
kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang Alhamdulillah
tepat pada waktunya yang berjudul “Kemiskinan di Indonesia”.
Makalah ini
berisikan tentang informasi Pengertian Kemiskinan
atau yang lebih khususnya membahas tentang Kemiskinan di Indonesia.Diharapkan
Makalah ini dapat memberikan informasi dan bermafaat bagi kita semua.
Kami menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata,kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.
Lubuklinggau, 15 November 2013
penyusun
penyusun
Kelompok 1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
1.2 Perumusan masalah
1.3 Tujuan penulisan
1.4 Metode penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Kemiskinan
2.2 Masalah Kemiskinan di Indonesia
2.3 Faktor penyebab kemiskinan di Indonesia
2.4
Kebijakan
Antikemiskinan di
Indonesia
BAB III PENUTUP
3.1 kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena menyangkut
berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan,
pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Agar kemiskinan di Indonesia dapat
menurun diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat dan keseriusan
pemerintah dalam menangani masalah ini. Melihat kondisi negara Indonesia yang
masih memiliki angka kemiskinan tinggi, penulis tertarik untuk mengangkat
masalah kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannya. Penulis berharap dengan
karya tulis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka mengentaskan
kemiskinan dari Negara tercinta ini.
1.2 Perumusan Masalah
1.
Bagaimana
defenisi kemiskinan?
2.
Apa
masalah Kemiskinan di Indonesia?
3.
Faktor
apa yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia?
4.
Bagaimana
kebijakan menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui
defenisi kemiskinan
2.
Mengetahui
masalah kemiskinan di Indonesia
3.
Mengetahui
faktor penyebab terjadinya kemiskinan
4.
Mengetahui
kebijakan menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia
1.4 Metode Penulisan
Penulis menggunakan metode studi pustaka dan browsing
internet dalam penulisan karya tulis.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Defenisi
Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi
kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat
berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup .
Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan
yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian
orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya
melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya
dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Dari
berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk/jenis
kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1.
Kemiskinan
Absolut
Seseorang dikategorikan termasuk ke
dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis
kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan,
sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2.
Kemiskinan
Relatif
Seseorang yang
tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi
masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan
ini dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada orang yang sudah dapat
memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi masih jauh lebih rendah dibanding
masyarakat sekitarnya (lingkungannya). Semakin besar ketimpangan antara tingkat
penghidupan golongan atas dan golongan bawah maka akan semakin besar pula
jumlah penduduk yang dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan relatif
erat hubungannya dengan masalah distribusi pendapatan.
3.
Kemiskinan
Kultural
Kemiskinan ini berkaitan erat dengan
sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki
tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya. mereka merasa miskin karena membandingkan dirinya dengan
orang lain atau pasrah dengan keadaannya dan
menganggap bahwa mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau
nenek moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang.
Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk
menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang
mempengaruhi kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari keluarga
miskin yaitu:
1.
Kemampuan
dalam memenuhi kebutuhan dasar contohnya dapat dilihat dari aspek pengeluaran
keluarga, kemampuan menjangkau tingkat pendidikan dasar formal yang ditamatkan,
dan kemampuan menjangkau perlindungan dasar.
2.
Kemampuan
dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari kegiatan utama dalam mencari
nafkah, peran dalam bidang pendidikan, peran dalam bidang perlindungan, dan
peran dalam bidang kemasyarakatan.
3.
Kemampuan
dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari upaya yang dilakukan sebuah
keluarga untuk menghindar dan mempertahankan diri dari tekanan ekonomi dan non
ekonomi.
2.2
Masalah Kemiskinan di Indonesia
Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal
antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu
pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan
rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan
untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan
kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.
Pemecahan masalah kemiskinan memerlukan langkah-langkah dan
program yang dirancang secara khusus dan terpadu oleh pemerintah dan merupakan
tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Penulis ingin
menitikberatkan karya ilmiah ini dengan 3 masalah utama kemiskinan di
Indonesia, yaitu: terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan
rendahnya mutu layanan kesehatan, serta terbatasnya dan rendahnya mutu layanan
pendidikan.
·
Terbatasnya
Kecukupan dan Mutu Pangan
Hal ini berkaitan dengan rendahnya daya
beli, ketersediaan pangan yang tidak merata, dan kurangnya dukungan pemerintah
bagi petani untuk memproduksi beras sedangkan masyarakat Indonesia sangat
tergantung pada beras. Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari
rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak
balita, dan ibu.
·
Terbatasnya
dan Rendahnya Mutu Layanan Kesehatan
Hal ini mengakibatkan rendahnya daya
tahan dan kesehatan masyarakat miskin untuk bekerja dan mencari nafkah,
terbatasnya kemampuan anak dari keluarga untuk tumbuh kembang, dan rendahnya
kesehatan para ibu. Salah satu indikator dari terbatasnya akses layanan
kesehatan adalah angka kematian bayi. Data Susenas (Survai Sosial Ekonomi
Nasional) menunjukan bahwa angka kematian bayi pada kelompok pengeluaran
terendah masih di atas 50 per 1.000 kelahiran hidup.
·
Terbatasnya
dan Rendahnya Mutu Layanan Pendidikan
Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya
pendidikan, terbatasnya kesediaan sarana pendidikan, terbatasnya jumlah guru
bermutu di daerah, dan terbatasnya jumlah sekolah yang layak untuk proses
belajar-mengajar. Pendidikan formal belum dapat menjangkau secara merata
seluruh lapisan masyarakat sehingga terjadi perbedaan antara penduduk kaya dan
penduduk miskin dalam masalah pendidikan.
2.3
Faktor
Penyebab Kemiskinan di Indonesia
Ada
dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu:
1.
Kemiskinan
alamiah
Kemiskinan alamiah terjadi akibat
sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, bencana alam,dan
karena seseorang atau
suatu masyarakat tak mau berusaha dengan kerja keras.
2.
Kemiskinan
buatan
Kemiskinan ini terjadi karena
lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat
tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia
hingga mereka tetap miskin.
Bila
kedua faktor penyebab kemiskinan tersebut dihubungkan dengan masalah mutu
pangan, kesehatan, dan pendidikan maka dapat disimpulkan beberapa faktor
penyebab kemiskinan antara lain:
1.
Kurang
tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin secara layak misalnya
puskesmas, sekolah, tanah yang dapat dikelola untuk bertani.
2.
Kurangnya
dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak dapat menjalani dan
mendapatkan haknya atas pendidikan dan kesehatan yang layak dikarenakan biaya
yang tinggi
3.
Rendahnya
minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai haknya karena mereka kurang
mendapat pengetahuan mengenai pentingnya memliki pendidikan tinggi dan
kesehatan yang baik.
4.
Kurangnya
dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian agar masyarakat miskin dapat
bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.
5.
Wilayah
Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah untuk menjangkau
seluruh wilayah dengan perhatian yang sama. Hal ini menyebabkan terjadi
perbedaan masalah kesehatan, mutu pangan dan pendidikan antara wilayah
perkotaan dengan wilayah yang tertinggal jauh dari perkotaan.
2.1
2.2
2.3
2.4
Kebijakan
Antikemiskinan di
Indonesia
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan
suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat. Untuk mendukung strategi
tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran
atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
·
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor
pertanian dan ekonomi pedesaan
·
Intervensi jangka menengah dan panjang meliputi:
Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi,
Desentralisasi, Pendidikan dan Kesehatan Penyediaan air bersih dan Pembangunan
perkotaan
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Kondisi kemiskinan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal
ini ditandai dengan rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan
dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak,
dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Oleh karena itu, perlu mendapat
penanganan khusus dan terpadu dari pemerintah bersama-sama dengan masyarakat.
Daftar pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/07/21/0018.html
http://www.scribd.com/doc/1589
Rabu, 04 September 2013
masalah BLSM
menurut saya bantuan BLSM masih bnyak pro dan kontra, masih banyak salah sasaran. termasuk di kota saya, org yang
mampu mendpatkan BLSM yang kurang mampu tdak terdata, lbih baek BLSM
ditiadakan dan menggantinya dengan lapangan pekerjaan,agar masarakat
bisa berusaha bekerja keras. terkecuali lansia okke2 aja dksih BLSM.
Sabtu, 31 Agustus 2013
lowongan kerja PT PLN
- Tanggal 1 Januari 1961, dibentuk BPU – PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas.
- Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik dan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang mengelola gas.
- Saat itu kapasitas pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW.
- Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN).
- Tahun 1990 melalui peraturan pemerintah No 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan.
- Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik.
Misi
- Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
- Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
- Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
- Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
Lowongan Kerja BUMN PLN
Update 5 Agustus 2013Posisi :
Kirim Berkas Lamaran ke PO BOX 13000
Yogyakarta, disusun sesuai petunjuk yang ada web ini bagian Proses
Rekrutmen atau didokumen terlampir, paling lambat 24 Agustus 2013 (cap
pos). Jangan Lupa untuk menempelkan Nomer Registrasi di Kanan Atas
Amplop. Tempelan No Registrasi tersebut harus dari cetakan sistem
registrasi online, tidak boleh ditulis tangan atau diketik sendiri.
Silahkan melihat sumber lowongan melalui link di bawah ini >>
Sumber lowongan
Sumber lowongan
Update 24 Agustus 2013
Minggu, 03 Februari 2013
MAKALAH MATEMATIKA EKONOMI
MAKALAH MATEMATIKA EKONOMI
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan penyusunan tugas makalah Penerapan Diferensial Dalam
Ekonomi dengan baik tanpa adanya kendala apapun yang berarti.
Tugas makalah Penerapan Deferensial
Dalam Ekonomi ini kami susun agar
dapat memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah matematika ekonomi. Tujuan
lain penyusunan tugas ini adalah supaya para pembacanya dapat memahami tentang matematika
terapan dalam bisnis dan ekonomi.
Materi pada makalah ini kami buat
dengan menggunakan bahasa yang sederhana supaya dapat dimengerti oleh pembaca.
Akhirnya, kami ucapkan terima kasih
kepada pihak – pihak yang telah memberikan kontribusinya dalam penyelesaian
makalah ini.
Saran dan kritik dari berbagai pihak
kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini.
Demikian,
terimakasih
Lubuklinggau,21
Januari 2013
Pajar
Pamuji
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
……………………………………………………………….……i
DAFTAR ISI
…………………………………………………………………………...…ii
BAB I PENDAHULUAN
………………………………………………………………..1
BAB II PEMBAHASAN
…………………………………………………………………2
2.1 Pengertian
Diferensial ………………………………………………………..2
2.2 Penerapan
Diferensial ………………………………………………………..3
2.2.1 Elastisitas ……………………………………………………………...3
2.2.2 Pendapatan Konsumsi ………………………………………………...5
2.2.3 Pendapatan Tabungan …………………………………………………6
BAB
III PENUTUP ………………………………………………………………………8
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Diferensial
membahas tentang tingkat perubahan suatu fungsi sehubungan dengan perubahan
kecil dalam variabel bebas fungsi yang bersangkutan. Dengan diferensial dapat pula
disidik kedudukan – kedudukan khusus dari fungsi yang sedang dipelajari seperti
titik maksimum, titik belok dan titik minimumnya jika ada. Berdasarkan manfaat
– manfaat inilah konsep diferensial menjadi salah satu alat analisis yang
sangat penting dalam bisnis dan ekonomi. Sebagaimana diketahui, analisis dalam
bisnis dan ekonomi sangat akrab dengan masalah perubahan, penentuan tingkat
maksimum dan tingkat minimum.
Pendekatan
kalkulus diferensial amat berguna untuk menyidik bentuk gambar suatu fungsi non
linear. Dengan mengetahui besarnya harga dari turunan pertama (first derivative) sebuah fungsi, akan
dapat dikenali bentuk gambar dari fungsi tersebut. Secara berurutan seksi-seksi
berikut akan membahas hubungan antara fungsi non linear dan derivative pertamanya,
guna mengetahui apakah kurvanya menaik atau kan menurun pada kedudukan
tertentu; hubungan antara fungsi parabolic dan derivativenya, guna mengetahui
letak dan bentuk titik ekstrimnya (maksimum atau minimum) serta hubungan antara
fungsi kubik dan derivativenya guna mengetahui letak dan bentuk titik ekstrim
serta letak titik beloknya. Akan tetapi sebelum semua itu, marilah kita
perhatikan hubungan secara umum antara sebuah fungsi dan fungsi-fungsi
turunannya.
Berdasarkan
kaidah deferensi, dapat disimpulkan bahwa turunan dari suatu fungsi berderajat
“n” adalah sebuah fungsi berderajat “n-1”. Dengan perkataan lain, turunan dari
fungsi berderajat 3 adalah sebuah fungsi berderajat 2, turunan dari fungsi
berderajat 2 adalah sebuah fungsi berderajat 1, turunan dari fungsi berderajat
1 adalah sebuah fungsi berderajat 0 alias sebuah konstanta, dan akhirnya
turunan dari sebuah konstanta adalah 0.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Diferensial
Darivatif atau turunan
tidak dianggap sebagai suatu hasil bagi atau
pecahan dengan
sebagai pembilang dan dx sebagai penyebut,
melainkan sebagai lambang yang menyertakan limit dari
, sewaktu
mendekati nilai nol sebagai limit. Akan tetapi
untuk dapat memahami masalah – masalah tertentu kadang – kadang bermanfaat juga
untuk menafsirkan dx dan dy secara terpisah. Dalam hubungan ini dx menyatakan
diferensial x dan dy diferensial y. pengertian diferensial berguna sekali,
misalnya dalam aplikasinya pada kalkulus integral dan pada pendekatan perubahan
dalam variabel gayut yang berkaitan dengan perubahan – perubahan kecil dalam
variabel bebas.
Jika fَ (x) merupakan derivative dari fungsi f(x)
untuk nilai x tertentu dan
merupakan kenaikan dalam x, maka diferensial
dari f(x), yang dalam hal ini ditulis f(x), terdefinisikan oleh persamaan.
df
(x) = fَ
(x) .
Jika
f(x) = x, maka fَ (x) = 1, dan dx =
. Jadi jika x merupakan variabel bebas,
maka diferensial dx dari x sama dengan
.
Jika
y = f(x), maka
dy
= fَ
(x) dx =
dx
Jadi
diferensial suatu variabel gayut sama dengan hasil kali turunannya dengan
diferensial variabel bebas.
Secara
geometrical perhatikanlah kurva y = f(x) (lihat gambar 9 dibawah ini), dan
misalkan turunannya pada titik P = fَ (x). Maka dx = PQ dan dy = fَ (x) = (
)(PQ) =
Oleh
karena itu dy atau df (x) adalah kenaikan ordinat dari tangens yang berpadanan
dengan dx. Argumentasi geometrical ini membawa kita kepada penfsiran derivative
sebagai suatu hasil bagi atau pecahan, jika sembarang kenaikan dari variabel
bebas x pada suatu titik P (x,y) pada kurva y = f(x) dinyatakan dengan dx, maka
dalam rumusan turunannya.
=
fَ
(x) = (
)
dy
menyatakan kenaikan yang berpadan dari koordinat tangens pada P.
Perhatikan,
bahwa diferensial dy dan kenaikan
dari fungsi yang berpadan dengan nilai dx =
yang sama, pada umumnya tidaklah sama. Dalam
gambar.9 disamping dy = QT sedang
=
QPَ
Dari
gambar itu dapat dilihat dengan jelas, bahwa
=
QP', dan dy = QT kurang lebih sama, jika
=
PQ sangatlah kecil. Pada hakekatnya jika variabel bebas kecil sekali
perubahannya, maka diferensial fungsi itu hamper sama dengan kenaikan fungsi.
Jika diferensial fungsi dapat dipakai untuk mendekati perubahannya, apabila
perubahan variabel bebas keci sekali.
2.2 Penerapan Diferensial Ekonomi
2.2.1 Elastisitas
Elastisitas dari suatu fungsi
berkenaan dengan x dapat didefinisikan sebagai
:
Ini
berarti bahwa elastisitas
merupakan limit dari rasio antara perubahan
relative dalam y terhadap perubahan relative dalam x, untuk perubahan x yang
sangat kecil atau mendekati nol. Dengan terminology lain, elastisitas y
terhadap x dapat juga dikatakan sebagai rasio antara persentase perubahan y
terhadap perubahan x.
a)
Elastisitas Permintaan
Elastisitas
permintaan (istilahnya yang lengkap : elastisitas harga permintaan, price elasticity of demand) ialah suatu
koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang diminta akibat
adanya perubahan harga. Jadi, merupakan rasio antara persentase perubahan
jumlah barang yang diminta terhadap persentase perubahan harga. Jika fungsi
permintaan dinyatakan dengan Qd
= f(P), maka elastisitas permintaannya :
Dimana
tak lain adalah Q'd atau f'(P)
Permintaan akan suatu barang
dikatakan bersifat elastic apabila
, elastic – uniter jika
, dan inelastic bila
. Barang yang permintaanya elastic
mengisyaratkan bahwa jika harga barang tersebut berubah sebesar persentase
tertentu, maka permintaan terhadapnya akan berubah (secara berlawanan arah)
dengan persentase yang lebih besar daripada persentase perubahan harganya.
Contoh
kasus:
Fungsi permintaan akan suatu barang
ditunjukan oleh persamaan Qd = 25 – 3 P2 . tentukan
elastisitas permintaannya pada tingkat harga P = 5.
Qd = 25 – 3 P2
.
ηd
= 3 berarti bahwa apabila, dari kedudukan P = 5, harga naik (turun) sebesar 1
persen maka jumlah barang yang diminta akan berkurang (bertambah) sebanyak 3
persen.
b) Elastisitas
Penawaran
Elastisitas
penawaran (istilahnya yang lengkap : elastisitas harga penawaran, price elasticity of supply) ialah suatu
koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah barang yang ditawarkan berkenaan
adanya perubahan harga. Jadi, merupakan rasio antara persentase perubahan
harga. Jika fungsi penawaran dinyatakan dengan Qs = f(P), maka elastisitas penawarannya :
Dimana
tak lain adalah Q's atau f'(P).
Penawaran suatu barang dikatakan bersifat
elastic
apabila
, elastic – uniter jika
dan inelastic bila
. Barang yang penawarannya inelastic
mengisyaratkan bahwa jika harga barang tersebut (secara searah) dengan
persentase yang lebih kecil daripada persentase perubahan harganya.
Contoh
kasus :
Fungsi penawaran suatu barang dicerminkan
oleh Qs = -200 + 7 P2. Berapa elastisitas penawarannya
pada tingkat harga P = 10 dan P = 15 ?
Qs
= -200 + 7 P2
Q’s
= dQs / dP = 14 P
Pada
P = 10,
Pada
P = 15,
berarti
bahwa apabila dari kedudukan P = 10, harga naik (turun) sebesar 1 % maka jumlah
barang yang ditawarkan akan bertambah (berkurang) sebanyak 2,8%
Dan
berarti bahwa apabila dari kedudukan P = 15,
harga naik (turun) sebesar 1% maka jumlah barang yang ditawarkan akan bertambah
(berkurang) sebanyak 2,3%
c) Elastisitas
Produksi
Elastisitas
produksi ialah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan jumlah keluaran
(output) yang dihasilkan akibat adanya perubahan jumlah masukan (input) yang
digunakan. Jadi, merupakan rasio antara persentase perubahan jumlah keluaran
terhadap persentase perubahan jumlah masukan. Jika P melambangkan jumlah produk yang dihasilkan sedangkan X melambangkan jumlah factor produksi
yang digunakan, dan fungsi produksi dinyatakan dengan P = f(X), maka efisiensi produksinya :
Dimana
adalah produk marjinal dari X [P' atau f' (X)].
Contoh
kasus :
Fungsi produksi suatu barang ditunjukan
oleh persamaan P = 6 X2 – X3. Hitunglah elastisitas
produksinya pada tingkat penggunaan factor produksi sebanyak 3 unit dan 7 unit.
P = 6 X2 – X3 P’ = dP / dX = 12 X – 3 X2
Pada
X = 3,
Pada
X = 7,
berarti bahwa, dari kedudukan X = 3, maka jika
jumlah input dinaikkan (diturunkan) sebesar 1% maka jumlah output akan
bertambah (berkurang) sebanyak 1 %
Dan
berarti bahwa, dari kedudukan X = 7, maka jika jumlah input dinaikkan
(diturunkan) sebesar 1% maka jumlah output akan bertambah (berkurang) sebanyak
9 %
2.2.2 Pendapatan Konsumsi
Dalam ekonomi makro, pendapatan masyarakat suatu
negara secara keseluruhan (pendapatan nasional) dialokasikan ke dua kategori
penggunaan, yakni dikonsumsi dan ditabung. Jika pendapatan dilambang dengan Y,
sedangkan konsumsi dan tabungan masing –
masing dilambangkan dengan C dan S, maka kita dapat merumuskan persamaan:
Y = C + S
Baik konsumsi nasional maupun tabungan nasional pada
umumnya dilambangkan sebagai fungsi linear dari pendapatan nasional. Keduanya
berbanding lurus dengan pendapatan nasional. Semakin besar pendapatan nasional
maka konsumsi dan tabungan akan semakin besar pula. Sebaliknya apabila
pendapatan berkurang, konsumsi dan tabungan pun akan berkurang pula, sehingga :
DY = ¶C + ¶S à diferensial
Karena ¶C + ¶S = dY à dY/dY = ¶C/dY + ¶S/dY à derivasi
¶C/dY = MPC (Marginal Propensity to Consume)
¶S/dY = MPS (Marginal Propensity to Save)
Sehingga terbukti bahwa MPC + MPS = 1
2.2.3 Pendapatan Tabungan
Konsep diferensial dengan mudah
dapat diperluas menjadi fungsi yang terdiri dari dua atau lebih variabel bebas.
Perhatikan fungsi tabungan berikut ini :
S = S (Y,i)
Dimana
S adalah tabungan (savings). Y adalah
pendapatan nasional (national income), dan i adalah suku bunga (interes rate).
Fungsi ini kita asumsikan seperti semua fungsi yang akan kita gunakan disini
diasumsikan kontinu dan memiliki derivative (parsial) kontinu, atau secara
simbolis, f Є C'. Derivatif parsial
mengukur kecenderungan marginal (marginal
propensity to save). Jadi, untuk semua perubahan dalam Y, dY, perubahan S
hasilnya dapat diaproksima dengan kuantitas
. Demikian juga jika perubahan dalam i,
di kita dapat
sebagai aproksimasi untuk menentukan perubahan
S yang dihasilkan. Jadi perubahan
total dalam S diaproksimsi dengan
diferensial
Atau
dengan menggunakan notasi yang lain,
Perhatikan
bahwa kedua derivative parsial Sy dan Si kembali menaikan
peran sebagai “pengubah” yang masing – masing mengubah dY dan di menjadi dS yang
bersesuaian. Pernyataan dS, yang
merupakan jumlah perubahan – perubahan hasil
aproksimasi dari kedua sumber, disebut diferensial total dari fungsi tabungan.
Dan proses untuk mencari diferensial total ini disebut diferensiasi total (total
differentiation), sebaliknya kedua komponen yang ditambahkan di ruas kanan
disebut sebagai diferensial parsial dari fungsi tabungan.
Tentu saja ada kemungkinan dimana Y
dapat berubah sedangkan i konstan. Dalam hal ini di = 0 dan diferensial total akan
disederhanakan menjadi diferensial parsial:
. Dengan membagi kedua sisi persamaan
dengan dY diperoleh
)i konstan
BAB III
PENUTUP
Diferensial
membahas tentang tingkat perubahan suatu fungsi sehubungan perubahan kecil
dalam variabel bebas fungsi yang bersangkutan. Derivasi adalah hasil yang
diperoleh dari proses diferensiasi.
Dalam ekonomi makro, pendapatan masyarakat suatu
negara secara keseluruhan (pendapatan nasional) dialokasikan ke dua kategori
penggunaan, yakni dikonsumsi dan ditabung. Jika pendapatan dilambang dengan Y,
sedangkan konsumsi dan tabungan masing –
masing dilambangkan dengan C dan S, maka kita dapat merumuskan persamaan: Y = C + S
Semakin besar pendapatan nasional maka konsumsi dan
tabungan akan semakin besar pula. Sebaliknya apabila pendapatan berkurang,
konsumsi dan tabungan pun akan berkurang pula, sehingga : DY = ¶C + ¶S à diferensial
S = S (Y,i), dimana S adalah
tabungan (savings). Y adalah pendapatan nasional (national income), dan i
adalah suku bunga (interes rate).
Demikian
juga jika perubahan dalam i, di kita dapat
sebagai aproksimasi untuk menentukan perubahan
S yang dihasilkan. Jadi perubahan
total dalam S diaproksimsi dengan
diferensial
DAFTAR PUSTAKA
Dumairy,
“Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi”, edisi kedua, BPFE, Yogyakarta,
1991
Langganan:
Postingan (Atom)